Friday, December 7, 2007

Man of Letters in West Asia

Al-Akhtal

Al-Akhtal bernama lengkap Abu Malik Ghiyas bin Ghaus al-Taghliby al-Nasrany (beragama Kristen). Ia dilahirkan di sebuah tempat bernama Hirah (Sergiopolis) sebuah tempat di utara Siria. Ia tumbuh di bawah asuhan ibu tiri yang justru tidak mendidiknya dengan baik sehingga ia sudah kenal dengan khamar sejak kecil. Bakat kepenyairannya sudah tampak sejak kecil dan ketika sudah besar, ia disebut-sebut sebagai penyair yang selalu menang dalam perang tanding puisi ejekan (hija’ atau satire). Puisinya mengalir tanpa beban sehingga mudah dipahami. Ia sering meminta kritik untuk puisi-puisinya sehingga menjadi lebih halus dan bebas dari kecacatan. Dalam puisi al-Al-Akhtal ditemukan orientasi pujian dan khamriyat serta puisi politik.

Al-Akhtal merupakan lidah tajam khalifah Umayyah, terutama pada masa Yazid I memerintah (60/680). Sejak saat itu ia menjadi penyair istana sampai pada masa khalifah-khalifah berikutnya (Mu’awiyah II (64/683) dan Marwan I (101/717)). Sedangkan Jarir, pada awalnya adalah pengikut partai Zubairiyah. Akan tetapi, setelah bani Umayyah mengalahkan Abdullah bin Zubair ia beralih ke daulah Umayyah. Selanjutnya ia memuji Abdul Malik bin Marwan, Walid I, Sulaiman, dan Umar II.
Dengan demikian, bila dilihat dari urutan kekhalifahan Umayyah[12], diketahui bahwa al-Akhtal terlebih dahulu terlibat dalam lingkungan dinasti Umayyah, disusul oleh al-Farazdaq dan Jarir. Pada akhirnya, secara politis mereka diikat oleh keharusan untuk menegakkan puisi-puisinya demi untuk mendukung kebesaran dinasti Umayyah.
Bila secara politis mereka disatukan oleh ikatan kenegaraan, tidak sama halnya dengan kehidupan keperibadian mereka.

Najib Mahfoud

Pengarang besar Mesir lainnya adalah Naguib Mahfouz yang telah menghasilkan lebih 30 novel dan lebih dari 100 cerpen. Karyanya yang sudah diindonesiakan antara lain Pengemis (diterbitkan oleh Grafiti Press, cetakan I, 2006). Novel yang berhasil meraih hadiah Nobel Sastra ini memotret seorang tokoh revolusioner Mesir yang tersisih oleh revolusi tahun 1952 di bawah Nasser yang ikut dicetuskannya.

Hanya satu tujuan hidupnya di bumi, yaitu menulis. Demikian pernah diucapkan seorang penulis sahabatnya, mengenai Najib Mahfouz, sastrawan paling terkemuka di dunia Arab. Sang pujangga dari Mesir itu meninggal dunia pada usia 94 tahun di Kairo, kota kesayangannya. Mahfouz pada pokoknya enggan meninggalkan kota tersebut. Dia juga tidak pergi dari Kairo pada 1988, untuk menerima hadiah Nobel sastra, suatu kehormatan yang belum pernah diperoleh para pengarang Arab lainnya.

Baru pada masa-masa akhir hidupnya Mahfouz bisa menikmati rezeki dari kerja kepenulisannya. Setelah anak perempuan sang munsyi menerima hadiah Nobel mewakilinya, penerbit-penerbit Barat mulai menerjemahkan dan menyebarluaskan buku-bukunya dalam jumlah besar. Sebelumnya, puluhan tahun ia hidup sebagaimana umumnya pengarang Arab: malam hari menulis, dan siang hari menjadi pegawai negeri. Sastrawan yang dalam waktu cepat telah menjual ratusan ribu buku itu, toh nyaris tidak mendapat apa-apa. Ia berulang kali ditipu para penerbit. Buku-bukunya dilipatkan gandakan ratusan ribu secara ilegal dan dijual di pasar gelap.

Timur dan Barat

Mahfouz telah menulis puluhan roman, banyak cerpen, naskah-naskah sandiwara, dan risalah politik. Limpahruah karya itu berkat kedisiplinan dan kecermatannya yang legendaris. Demikian menurut Raymond Stock, penulis riwayat hidup dan penerjemah dari banyak bukunya. Mahfouz memadukan dua dunia secara jitu. Ia ramah tamah memperlakukan manusia sebagai seorang Mesir, tetapi memperlakukan waktu sebagai seorang Jerman.

Berkat dorongan batinnya, barangkali tak ada hal lain yang bisa dilakukan Mahfouz, kecuali menulis. Pemberitaan di sekitar hadiah Nobel untuknya ia anggap sebagai beban, dan hanya mengganggu pekerjaannya. Sehari setelah penyerahan hadiah Nobel, di sebuah kedai kopi di Kairo seorang wartawan bertanya mengenai Nobel tersebut. Mahfouz merasa amat terganggu, dan ganti bertanya: "Bukankah hadiah Nobel itu sudah diberikan kemarin?"

Kehidupannya yang biasa-biasa saja
Mahfouz menerima Nobel sastra untuk bukunya Trilogi Kairo. Buku ini mengisahkan sebuah keluarga Mesir yang hidup di antara dua perang dunia. Buku ini khas Mahfouz, sebagaimana banyak karyanya yang lain. Ini bukan saja karena bermain di ibukota Mesir, tetapi juga karena pelukisan nyata akan kehidupan khalayak jelata Mesir.

Di samping itu, dalam buku-bukunya sang munsyi menulis dalam bahasa yang lebih akrab dengan dialek Mesir. Ini bertolak berlakang dari para pengarang Arab lainnya. Bahasa mereka lebih condong ke Arab klasik, yang bukan bahasa sehari-hari. Sikap kerja dan karya Mahfouz dianggap sebagai aliran baru dalam susastra Arab.

Kekecewaan besar
Tetapi, Trilogi Kairo juga merupakan gugatan terhadap tampilnya militer dalam pemerintahan rejim Kolonel Nasser (1952-1970). Mahfouz amat kecewa kepada Nasser. Ia mengharap Mesir menjadi negara demokratis dan modern setelah kudeta. Tetapi negara tersebut secara berangsur tetapi pasti terpuruk ke negara berkembang. Itulah kekecewaan terbesar baginya. Ia menduga Mesir bakal memilih politik Islam atau komunis, ternyata tentara tampil ke tampuk pemerintahan. Sejak itu Mesir menjadi negara polisi. Untuk menggarap masa-masa pahit itu Mahfouz memerlukan waktu bertahun-tahun.

Trilogi Kairo justru mempersulit Mahfouz sendiri. Sang munsyi berulangkali dipenjarakan, tetapi setiap kali bebas lagi, berkat sahabat-sahabatnya yang berpengaruh dari dalam dan luar negeri. Pada 1979 ia juga sudah menciptakan musuh. Ia mendukung kesepakatan perdamaian, sehingga Mesir menjadi negara Arab pertama yang mempunyai hubungan dengan Israel. Banyak negara Arab kemudian melarang buku-bukunya. Toh buku-buku tetap dijual dan difilmkan secara ilegal.

Percobaan pembunuhan
Juga sikap keras penolakannya terhadap fundamentalisme Islam, harus dibayar mahal. Pada 1994 terjadi serbuan maut atas dirinya oleh para fundamentalis. Ia bisa selamat dari serbuan, tetapi tangan kanannya lumpuh. Ia tidak bisa lagi melihat dengan baik, dan sang munsyi tidak bisa menulis sendiri. Ia harus mendiktekan naskah-naskahnya.

Mahfouz berpulang dalam usia 94 tahun di sebuah rumah sakit di Kairo. Sejak Juli lalu ia terbaring di sana karena terjatuh. Kamis kemarin Mahfouz dimakamkan dalam upacara kenegaraan. Karya akbar pamungkas sang pujangga adalah himpunan cerita mengenai alam baka yang berjudul Langit Ketujuh. Dalam sebuah wawancara ia menyatakan, ia menulis cerita tersebut sebab ia ingin percaya, "mudah-mudahan ada sesuatu yang baik mengenai saya setelah saya mati."

Jalaludin Rumi

Mawlana Jalaludin Rumi Oleh Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani
(Grandson of Mawlana Rumi).

“Dia adalah, orang yang tidak mempunyai ketiadaan, Saya mencintainya dan Saya mengaguminya, Saya memilih jalannya dan Saya memalingkan muka ke jalannya. Setiap orang mempunyai kekasih, dialah kekasih saya, kekasih yang abadi. Dia adalah orang yang Saya cintai, dia begitu indah, oh dia adalah yang paling sempurna. Orang-orang yang mencintainya adalah para pecinta yang tidak pernah sekarat. Dia adalah dia dan dia dan mereka adalah dia. Ini adalah sebuah rahasia, jika kalian mempunyai cinta, kalian akan memahaminya.

( Sulthanul Awliya Mawlana Syaikh Nazhim Adil al-Haqqani - Cucu dari Mawlana Rumi, Lefke, Cyprus Turki, September 1998)

Rumi memang bukan sekadar penyair, tetapi juga seorang tokoh sufi yang berpengaruh di zamannya. Rumi adalah guru nomor satu Thariqat Maulawiah, sebuah thariqat yang berpusat di Turki dan berkembang di daerahsekitarnya. Thariqat Maulawiah pernah berpengaruh besar dalam lingkungan Istana Turki Utsmani dan kalangan seniman sekitar tahun l648.

Sebagai tokoh sufi, Rumi sangat menentang pendewaanakal dan indera dalam menentukan kebenaran. Di zamannya, ummat Islam memang sedang dilanda penyakit
itu. Bagi mereka kebenaran baru dianggap benar bilamampu digapai oleh indera dan akal. Segala sesuatu yang tidak dapat diraba oleh indera dan akal, dengan cepat mereka ingkari dan tidak diakui.

Padahal menurut Rumi, justru pemikiran semacam itulah yang dapat melemahkan Iman kepada sesuatu yang ghaib. Dan karena pengaruh pemikiran seperti itu pula, kepercayaan kepada segala hakekat yang tidak kasat mata, yang diajarkan berbagai syariat dan beragam agama samawi, bisa menjadi goyah.

Rumi mengatakan, “Orientasi kepada indera dalam menetapkan segala hakekat keagamaan adalah gagasanyang dipelopori kelompok Mu’tazilah. Mereka merupakan
para budak yang tunduk patuh kepada panca indera. Mereka menyangka dirinya termasuk Ahlussunnah. Padahal, sesungguhnya Ahlussunnah sama sekali tidak terikat kepada indera-indera, dan tidak mau pula memanjakannya.”

Bagi Rumi, tidak layak meniadakan sesuatu hanya karena tidak pernah melihatnya dengan mata kepala atau belum pernah meraba dengan indera. Sesungguhnya, batin akan selalu tersembunyi di balik yang lahir, seperti faedah penyembuhan yang terkandung dalam obat. “Padahal, yanglahir itu senantiasa menunjukkan adanya sesuatu yang tersimpan, yang tersembunyi di balik dirinya. Bukankah Anda mengenal obat yang bermanfaat? Bukankah kegunaannya tersembunyi di dalamnya?” tegas Rumi.

PENGARUH TABRIZ

Fariduddin Attar, salah seorang ulama dan tokoh sufi,ketika berjumpa dengan Rumi yang baru berusia 5 tahun pernah meramalkan bahwa si kecil itu kelak akan menjadi tokoh spiritual besar. Sejarah kemudian mencatat, ramalan Fariduddin Attar itu tidak meleset.

Rumi, Lahir di Balkh, Afghanistan pada 604 H atau 30September 1207. Mawlana Rumi menyandang nama lengkap Jalaluddin Muhammad bin Muhammad al-Balkhi al-Qunuwi. Adapun panggilan Rumi karena sebagian besar hidupnya ia habiskan di Konya (kini Turki), yang dahulu dikenal sebagai daerah Rum (Roma).

Ayahnya, Bahauddin Walad Muhammad bin Husein, adalah seorang ulama besar bermadzhab Hanafi. Dan karena kharisma dan tingginya penguasaan ilmu agamanya, ia digelari Sulthanul Ulama. Namun rupanya gelar itu menimbulkan rasa iri pada sebagian ulama lain. Dan mereka pun melancarkan fitnah dan mengadukan Bahauddin ke penguasa. Celakanya sang penguasa terpengaruh hingga Bahauddin harus meninggalkan Balkh, termasuk
keluarganya. Ketika itu Rumi baru berusia lima tahun. Sejak itu Bahauddin bersama keluarganya hidup berpindah- pindah dari suatu negara ke negara lain. Mereka pernah tinggal di Sinabur (Iran timur laut). Dari Sinabur pindah ke Baghdad, Makkah, Malattya (Turki), Laranda (Iran tenggara) dan terakhir menetap di Konya, Turki. Raja Konya Alauddin Kaiqubad, mengangkat ayah Rumi sebagai penasihatnya, dan juga mengangkatnya sebagai pimpinan sebuah perguruan agama yang didirikan di ibukota tersebut. Di kota ini pula ayah Rumi wafat ketika Rumi berusia 24 tahun.

Di samping kepada ayahnya, Rumi juga berguru kepada Burhanuddin Muhaqqiq at-Turmudzi, sahabat dan pengganti ayahnya memimpin perguruan. Rumi juga menimba ilmu di Syam (Suriah) atas saran gurunya itu. Beliau baru kembali ke Konya pada 634 H, dan ikut mengajar di perguruan tersebut.

Setelah Burhanuddin wafat, Rumi menggantikannya sebagai guru di Konya. Dengan pengetahuan agamanya yang luas, di samping sebagai guru, beliau juga menjadi da’i dan ahli hukum Islam. Ketika itu banyak tokoh ulama yang berkumpul di Konya. Tak heran jika Konya kemudian menjadi pusat ilmu dan tempat berkumpulpara ulama dari berbagai penjuru dunia.

Kesufian dan kepenyairan Rumi dimulai ketika beliausudah berumur cukup tua, 48 tahun. Sebelumnya, Rumi adalah seorang ulama yang memimpin sebuah madrasah
yang punya murid banyak, 4.000 orang. Sebagaimana seorang ulama, beliau juga memberi fatwa dan tumpuan ummatnya untuk bertanya dan mengadu. Kehidupannya itu berubah seratus delapan puluh derajat ketika beliau berjumpa dengan seorang sufi pengelana, Syamsuddinalias Syamsi dari kota Tabriz.

Suatu saat, seperti biasanya Rumi mengajar di hadapan khalayak dan banyak yang menanyakan sesuatu kepadanya. Tiba-tiba seorang lelaki asing–yakni Syamsi
Tabriz–ikut bertanya, “Apa yang dimaksud dengan riyadhah dan ilmu?” Mendengar pertanyaan seperti itu Rumi terkesima. Kiranya pertanyaan itu jitu dan tepat pada sasarannya. Beliau tidak mampu menjawab. Akhirnya Rumi berkenalan dengan Tabriz. Setelah bergaul beberapa saat, beliau mulai kagum kepada Tabriz yang ternyata seorang sufi.

Sultan Salad, putera Rumi, mengomentari perilaku ayahnya itu, “Sesungguhnya, seorang guru besar tiba-tiba menjadi seorang murid kecil. Setiap hari sang guru besar harus menimba ilmu darinya, meski sebenarnya beliau cukup alim dan zuhud. Tetapi itulah kenyataannya. Dalam diri Tabriz, guru besar itu melihat kandungan ilmu yang tiada taranya.”

Rumi telah menjadi sufi, berkat pergaulannya dengan Tabriz. Kesedihannya berpisah dan kerinduannya untuk berjumpa lagi dengan gurunya itu telah ikut berperan
mengembangkan emosinya, sehingga beliau menjadi penyair yang sulit ditandingi. Guna mengenang dan menyanjung gurunya itu, beliau tulis syair-syair, yang himpunannya kemudian dikenal dengan nama Divan Syams Tabriz. Beliau bukukan pula wejangan-wejangan gurunya, dan buku itu dikenal dengan nama Maqalat Syams Tabriz.

Rumi kemudian mendapat sahabat dan sumber inspirasi baru, Syaikh Hisamuddin Hasan bin Muhammad. Atas dorongan sahabatnya itu, selama 15 tahun terakhir masa hidupnya beliau berhasil menghasilkan himpunan syair
yang besar dan mengagumkan yang diberi nama Masnavi. Buku ini terdiri dari enam jilid dan berisi 20.700 bait syair. Dalam karyanya ini, terlihat ajaran-ajaran tasawuf yang mendalam, yang disampaikan dalam bentuk apologi, fabel, legenda, anekdot, dan lain-lain. Bahkan Masnavi sering disebut Qur’an Persia. Karya tulisnya yang lain adalah Ruba’iyyat (sajak empat baris dengan jumlah 1600 bait), Fiihi Maa fiihi (dalam bentuk prosa; merupakan himpunan ceramahnya tentang metafisika), dan Maktubat (himpunan surat-suratnya kepada sahabat atau pengikutnya).

Bersama Syaikh Hisamuddin pula, Rumi mengembangkan Thariqat Maulawiyah atau Jalaliyah. Thariqat ini di Barat dikenal dengan nama The Whirling Dervishes (para Darwisy yang berputar-putar). Nama itu muncul karena para penganut thariqat ini melakukan tarian berputar-putar, yang diiringi oleh gendang dan suling, dalam dzikir mereka untuk mencapai ekstase.

WAFATNYA MAWLANA RUMI

Semua manusia tentu akan kembali kepada-Nya. Demikianlah yang terjadi pada Rumi. Penduduk Konya tiba-tiba dilanda kecemasan, karena mendengar kabar bahwa tokoh panutan mereka, Rumi, tengah menderita sakit keras. Meskipun demikian, pikiran Rumi masih menampakkan kejernihannya.

Seorang sahabatnya datang menjenguk dan mendo’akan, “Semoga Allah berkenan memberi ketenangan kepadamu dengan kesembuhan.” Rumi sempat menyahut, “Jika engkau beriman dan bersikap manis, kematian itu akan bermakna baik. Tapi kematian ada juga yang kafir dan pahit.”

Pada tanggal 5 Jumadil Akhir 672 H atau 17 Desember 1273 dalam usia 68 tahun Rumi dipanggil ke Rahmatullah. Tatkala jenazahnya hendak diberangkatkan, penduduk setempat berdesak-desakan ingin mengantarkan kepulangannya. Malam wafatnya beliau dikenal sebagai Sebul Arus (Malam Penyatuan). Sampai sekarang para pengikut Thariqat Maulawiyah masih memperingati tanggal itu sebagai hari wafatnya beliau.

“SAMA”, Tarian Darwis yang Berputar

Suatu saat Rumi tengah tenggelam dalam kemabukannya dalam tarian “Sama” ketika itu seorang sahabatnya memainkan biola dan ney (seruling), beliau mengatakan, “Seperti juga ketika salat kita berbicara dengan Tuhan, maka dalam keadaan extase para darwis juga berdialog dengan Tuhannya melalui cinta. Musik Sama yang merupakan bagian salawat atas baginda Nabi Sallallahu alaihi wasalam adalah merupakan wujud music cinta demi cinta Nabi saw dan pengetahuanNya.

Rumi mengatakan bahwa ada sebuah rahasia tersembunyi dalam Musik dan Sama, dimana musik merupakan gerbang menuju keabadian dan Sama adalah seperti electron yang mengelilingi intinya bertawaf menuju sang Maha Pencipta. Semasa Rumi hidup tarian “Sama” sering dilakukan secara spontan disertai jamuan makanan dan minuman. Rumi bersama teman darwisnya selepas solat Isa sering melakukan tarian sama dijalan-jalan kota Konya.

Terdapat beberapa puisi dalam Matsnawi yang memuji Sama dan perasaan harmonis alami yang muncul dari tarian suci ini. Dalam bab ketiga Matsnawi, Rumi menuliskan puisi tentang kefanaan dalam Sama, “ketika gendang ditabuh seketika itu perasaan extase merasuk bagai buih-buih yang meleleh dari debur ombak laut”.

Tarian Sakral Sama dari tariqah Mevlevi Haqqani atau Tariqah Mawlawiyah ini masih dilakukan saat ini di Lefke, Cyprus Turki dibawah bimbingan Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani. Ajaran Sufi Mawlana Syaikh Nazim dan mawlana Syaikh Hisyam juga merambah keberbagai kota di Amerika maupun Eropa, sehingga tarian Whirling Dervishes ini juga dilakukan di banyak kota-kota di Amerika, Eropa dan Asia di bawah bimbingan Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani ar-Rabbani.

Tarian Sama ini sebagai tiruan dari keteraturan alam raya yang diungkap melalui perputaran planet-planet. Perayaan Sama dari tariqah Mevlevi dilakukan dalam situasi yang sangat sakral dan ditata dalam penataan khusus pada abad ke tujuh belas. Perayaan ini untuk menghormati wafatnya Rumi, suatu peristiwa yang dambakan dan ia lukisakna dalam istilah-istilah yang menyenangkan.

Para Anggota Tariqah Mevlevi sekarang belajar menarikan tarian ini dengan bimbingan Mursyidnya. Tarian ini dalam bentuknya sekarang dimulai dengan seorang peniup suling yang memainkan Ney, seruling kayu. Para penari masuk mengenakan pakaian putih yang sebagai simbol kain kafan, dan jubah hitam besar sebagai symbol alam kubur dan topi panjang merah atau abu-abu yang menandakan batu nisan.

Akhirnya seorang Syaikh masuk paling akhir dan menghormat para Darwish lainnya. Mereka kemudian balas menghormati. Ketika Syaikh duduk dialas karpet merah
menyala yang menyimbolkan matahari senja merah tua yang mengacu pada keindahan langit senja sewaktu Rumi wafat. Syaikh mulai bersalawat untuk Rasulullah saw yang ditulis oleh Rumi disertai iringan musik, gendang, marawis dan seruling ney.

Peniup seruling dan penabuh gendang memulai musiknya maka para darwis memulai dengan tiga putaran secaraperlahan yang merupakaan simbolisasi bagi tiga tahapan yang membawa manusia menemui Tuhannya. Pada puatran ketiga Syaikh kembali duduk dan para penari melepas jubah hitamnya dengan gerakan yang menyimbulkan kuburan untuk mengalami ‘ mati sebelum mati”, kelahiran kedua.

Ketika Syaikh mengijinkan para penari menari, mereka mulai dengan gerakan perlahan memutar seperti putaran tawaf dan putaran planet-planet mengelilingi matahari. Ketika tarian hamper usai maka syaikh berdiri dan alunan musik dipercepat. Proses ini diakhiri dengan musik penutup danpembacaan ayat suci Al-Quran.

Rombongan Penari Darwis, secara teratur menampilkan Sama di auditorium umum di Eropa dan Amerika Serikat. Sekalipun beberapa gerakan tarian ini pelan dan terasa lambat tetapi para pemirsa mengatakan penampilan ini sangat magis dan menawan. Kedalaman konsentrasi, atau perasaan dzawq dan ketulusan para darwis menjadikan gerakan mereka begitu menghipnotis. Pada akhir penampilan para hadirin diminta untuk tidak bertepuk tangan karena “Sama” adalah sebuah ritual spiritual bukan sebuah pertunjukan seni.

Pada abad ke 17, Tariqah Mevlevi atau Mawlawiyah dikendalikan oleh kerajaan Utsmaniyah. Meskipun Tariqah Mawlawiyah kehilangan sebagian besar kebebasannya ketika berada dibawah dominasi Ustmaniyah, tetapi perlindungan Sang Raja menungkinkan Tariqah Mawlawi menyebar luas keberbagai daerah dan memperkenalkan kepada banyak orang tentang tatanan musik dan tradisi puisi yang unik dan indah. Pada Abad ke 18, Salim III seorang Sultan Utsmaniyah menjadi anggota Tariqah Mawlawiyah dan kemudian dia menciptakan musik untuk upacara-upacara Mawlawi.

Selama abad ke 19 , Mawlawiyah merupakan salah satudari sekitar Sembilan belas aliran sufi di Turtki dan sekitar tigapuluh lima kelompok semacam itu dikerajaan Utsmaniyah. Karena perlindungan dari raja mereka, Mawlawi menjadi kelompok yang paling berpengarh diseluruh kerajaan dan prestasi cultural mereka dianggap sangat murni. Kelompok itu menjadi terkenal di barat., Di Eropa dan Amerika pertunjukkan keliling mereka menyita perhatian public. Selama abad 19, sebuah panggung pertunjukkan yang didirikan di Turki menarik perhatian banyak kelompok wisatawan Eropa yang dating ke Turki.

Pada tahun 1925, Tariqah Mawlawi dipaksa membubarkan diri ditanah kelahiran mereka Turki, setelah Kemal Ataturk pendiri modernisasi Turki melarang semua
kelompok darwis lengkap dengan upacara serta pertunjukkan mereka. Pada saat itu makam Rumi di Konya diambil alih pemerintah dan diubah menjadi museum Negara.

Motivasi utama Atatutrk adalah memutuskan hubungan Turki dengan masa pertengahan guna mengintegrasikan Turki dengan dunia modern seperti demokrasi ala barat. Bagi Ataturk tariqah sufi menjadi ancaman bagi modernisasi Turki. Pada saat itulah Syaikh Nazim mulai menyebarkan bimbingan spiritual dan mengajar agama Islam di Siprus, Turki.

Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani

Banyak murid yang mendatangi Mawlana Syaikh Nazim dan menerima Thariqat Naqsybandi Haqqani. Selain itu beliau adalah pemegang otoritas Mursyid tujuh Tariqah
Sufi besar lainnya, termasuk Mevlevi Haqqani atau Mawlawiyah, Qodiriah, Syadziliyah, Chisty. Namun sayang, waktu itu semua agama dilarang di Turki dan karena beliau berada di dalam komunitas orang-orang Turki di Siprus, agama pun dilarang di sana. Bahkan mengumandangkan azan pun tak diperbolehkan.

Langkah Syaikh Nazim yang pertama ketika itu adalah menuju masjid di tempat kelahirannya dan mengumandangkan azan di sana, segera beliau dimasukkan
penjara selama seminggu. Begitu dibebaskan, Syaikh Nazim ق pergi menuju masjid besar di Nikosia danmelakukan azan di menaranya. Hal itu membuat parapejabat marah dan beliau dituntut atas pelanggaran hukum.

Sambil menunggu sidang, Syaikh Nazim ق terus mengumandangkan azan di menara-menara masjid di seluruh Nikosia. Sehingga tuntutannya pun terusbertambah, ada 114 kasus yang menunggu beliau. Pengacara menasihati beliau agar berhenti melakukanazan, namun Syaikh Nazim ق mengatakan, “ Tidak, aku tidak bisa mengehntikannya. Orang-orang harus mendengar panggilan azan untuk shalat.”

Ketika hari persidangan tiba, Mawlana Syaikh Nazim didakwa atas 114 kasus mngumandangkan azan diseluruh Cyprus. Jika tuntutan 114 kasus itu terbukti, maka
beliau bisa dihukum 100 tahun penjara. Tetapi pada hari yang sama hasil pemilu diumumkan di Turki. Seorang laki-laki bernama Adnan Menderes dicalonkan untuk berkuasa. Langkah pertamanya ketika terpilih menjadi Presiden adalah membuka seluruh masjid-masjid dan mengizinkan azan dikumandangkan dalam bahasa Arab. Inilah keajaiban yang diberikan Allah swt kepada Mawlana Syaikh Nazim.

Hingga saat ini makam Rumi di Konya tetap terpelihara dan dikelola oleh pemerintah Turki sebagai tempat wisata. Meskipun demikian pengunjung yang datang
kesana yang terbanyak adalah para peziarah dan bukan wisatawan. Melalui sebuah kesepakatan pemerintah Turki, pada tahun 1953 akhirnya menyetujui tarian “Sama” Tariqah Mawlawi dipeertontonkan lagi di Konya dengan syarat pertunjukan tersebut bersifat cultural untuk para wisatawan.

Rombongan Darwis juga diijinkan untuk berkelana secara Internasional. Meskipun demikian secara keseluruhan berbagai aspek sufisme tetap menjadi praktek yang illegal di Turki dan para sufi banyak diburu sejak Ataturk melarang agama mereka.

Wa min Allah at Tawfiq

Maulana Jalaluddin Rumi, Menari di Depan Tuhan

“AKAN tiba saatnya, ketika Konya menjadi semarak, dan makam kita tegak di jantung kota. Gelombang demi gelombang khalayak menjenguk mousoleum kita,
menggemakan ucapan-ucapan kita.”

Itulah ucapan Jalaluddin Rumi pada putranya, Sultan Walad, di suatu pagi. Dan waktu kemudian berlayar, melintasi tahun dan abad. Konya seakan terlelap dalam debu sejarah. “Tetapi, kota Anatolia Tengah ini tetap berdiri sebagai saksi kebenaran ucapan Rumi,” tulis Talat Said Halman, peneliti karya-karya mistik Rumi.

Kenyataannya memang demikian. Lebih dari 7 abad, Rumibak bayangan yang abadi mengawal Konya, terutama untuk pada pengikutnya, the whirling dervishes, para darwis yang menari. Setiap tahun, dari tanggal 2-17 Desember, jutaan peziarah menyemut menuju Konya. Dari delapan penjuru angin mereka berarak untuk memperingati kematian Rumi, 727 tahun silam.

Siapakah sesungguhnya makhluk ini, yang telah menegakkan sebuah pilar di tengah khazanah keagamaan Islam dan silang sengketa paham? “Dialah penyair mistik terbesar sepanjang zaman,” kata orientalis Inggris Reynold A Nicholson. “Ia bukan nabi, tetapi ia mampu menulis kitab suci,” seru Jami, penyair Persia Klasik, tentang karya Rumi,Matsnawi.

Gandhi pernah mengutip kata-katanya. Rembrandt mengabadikannya dikanvas, Muhammad Iqbal, filsuf dan penyair Pakistan, sekali waktu pernah berdendang,
“Maulana mengubah tanah menjadi madu…. Aku mabuk oleh anggurnya; aku hidup dari napasnya.” Bahkan, Paus Yohanes XXIII, pada 1958 menuliskan pesan khusus:
“Atas nama dunia Katolik, saya menundukkan kepala penuh hormat mengenang Rumi.”

Besar dalam kembara

Jalaluddin dilahirkan 30 September 1207 di Balkh, kini wilayah Afganistan. Ia Putra Bahauddin Walad, ulama dan mistikus termasyhur, yang diusir dari kota Balkh tatkala ia berumur 12 tahun. Pengusiran itu buntut perbedaan pendapat antara Sultan dan Walad.

Keluarga ini kemudian tinggal di Aleppo (Damaskus), dan di situ kebeliaan Jalaluddin diisi oleh guru-guru bahasa Arab yang tersohor. Tak lama di Damakus,
keluarga ini pindah ke Laranda, kota di Anatolia Tengah, atas permintaan Sultan Seljuk Alauddin
Kaykobad.

Konon, Kaykobad membujuk dalam sebuah surat kepada Walad, “Kendati saya tak pernah menundukkan kepala kepada seorang pun, saya siap menjadi pelayan dan
pengikut setia Anda.” Di kota ini ibu Jalaluddin, Mu’min Khatum, meninggal dunia. Tak lama kemudian, dalam usia 18 tahun, Jalaluddin menikah. 1226, putra pertama Jalaluddin, Sultan Walad, lahir. Setahun kemudian, keluarga ini pindah ke Konya, 100 Km dari Laranda. Di sini, Bahauddin Walad mengajar di madrasah. 1229, anak kedua Jalaluddin, Alauddin, lahir. Dua tahun kemudian, dalam usia 82 tahun, Bahaudin Walad meninggal dunia.

Era baru pun dialami Jalaluddin. Dia menggantikan Walad, dan mengajarkan ilmu-ilmu ketuhanan tradisional, tanpa menyentuh mistik. Setahun setelah kematian ayahnya, suatu pagi, madrasahnya kedatangan tamu, Burhannuddin Muhaqiq, yang ternyata murid terkasih Walad. Dan ketika menyadari sang guru telah tiada, Muhaqiq mewariskan ilmunya pada Jalaluddin. Burhanuddin pun menggembleng muridnya dengan latihan tasawuf yang telah dimatangkan selama 4 abad terakhir oleh para sufi, dan beberapa kali meminta dia ke Damakus untuk menambah lmu. 8 tahun menggembleng, 1240, Burhanuddin kembali ke Kayseri. Jalaluddin Rumi pun menggembleng diri sendiri.

Cinta adalah menari

Tahun 1244, saat berusia 37 tahun, Jalaluddin sudah berada di atas semua ulama di Konya. Ilmu yang dia timba dari kitab-kitab Persia, Arab, Turki, Yunani dan
Ibrani, membuat dia nyaris ensiklopedis. Gelar Maulana Rumi (Guru bangsa Rum) pun dia raih. Tapi, di sebuah senja Oktober, sehabis pulang dari madrasah, seseorang yang tak dia kenal, menjegat langkahnya, dan menanyakan satu hal. Mendengar pertanyaan itu, Rumi langsung pingsan!

Sebuah riwayat mengatakan, orang tak dikenal itu bertanya, “Siapa yang lebih agung, Muhammad Rasulullah yang berdoa, ‘Kami tak mengenal-Mu seperti seharusnya’
atau seorang sufi Persia, Bayazid Bisthami yang berkata, ‘Subhani, mahasuci diriku, betapa agungnya
kekuasaanku’. Pertanyaan mistikus Syamsuddin Tabriz itu mengubah hidup Rumi. Dia kemudian tak lagi terpisahkan dari Syams. Dan di bawah pengaruh Syams,
ia menjalani periode mistik yang nyala, penuh gairah, tanpa batas, dan kini, mulai menyukai musik. Mereka menghabiskan hari bersama-sama, dan menurut riwayat,
selama berbulan-bulan mereka dapat bertahan hidup tanpa kebutuhan-kebutuhan dasar manusia, khusuk menuju Cinta Ilahiah.

Tapi hal ini tak lama. Kecemburuan warga Konya, membuat Syams pergi. Dan saat Syams kembali, warga membunuhnya. Rumi kehilangan, kehilangan terbesar yang dia gambarkan seperti kehidupan kehilangan mentari.

Tapi, suatu pagi, seorang pandai besi membuat Jalaluddin menari. Pukulan penempa besi itu, Shalahuddin, membuat dia ekstase, dan tanpa sadar
mengucapkan puisi-puisi mistis, yang berisi ketakjuban pada pengalaman syatahat. Rumi pun kemudian bersabahat dengan Shalahuddin, yang kemudian menggantikan posisi
Syams. Dan era menari pun dimulai Rumi, menari sambil memadahkan syair-syair cinta Ilahi. “Tarian para darwis itulah yang kemudian menjadi semacam bentuk
Rumi atas kehilangan Syams,” jelas Talat.

Sampai meninggalnya, 17 Desember 1273, Rumi tak pernah berhenti menari, kerana dia tak pernah berhenti mencintai Allah. Tarian itu juga yang membuatperingkatnya dalam inisiasi sufi berubah dari yang mencintai jadi yang dicintai. (Aulia A Muhammad)

Amrul Kais

Aku tahu bahwa engkau telah berniat datang, ketika,
jelas tampak, unta-untamu tertambat di gelap malam.

Tak ada yang menakutkanku bila dia datang, kecuali
unta-unta pembawa barangnya akan memakan biji-biji
pohon khim-khim di seluruh negeri kami.

Di antaranya, ada dua dan empat puluh unta penghasil susu
unta yang hitam sehitam sayap-sayap gagak yang hitam.

Ketika dia memikatmu dengan mulut yang tajam bernafsu,
dan gigi-gigi yang putih, manis tempat kecupan, nikmat rasa.

Maka bila dia menatapmu dengan dua bola mata mudanya,
kijang di belantara pun tumbuh menjadi rusa padang rumput.

[petikan dari syair karya Antar yang tergantung di dinding Kabah]


BANGSA Arab adalah mereka yang menaruh hormat pada kata-kata. Ada pada suatu masa -- sebelum kerasulan Mohammad -- suku-suku di sana mengukur kehormatan kaum mereka dengan tiga hal: pertama seberapa murahnya hati mereka menerima suku lain sebagai kerabat; kemampuan dalam seni bertempur -- yang ditentukan dengan kemarihan berkuda dan memainkan senjata --; serta kepiawaian berbahasa.
Ketika di dalam sebuah suku ada muncul seorang penyair baru, maka pesta perayaan pun digelar. Suku-suku lain pun diundang untuk memberi ucapan selamat. Kehadiran seorang penyair di tengah sebuah suku dianggap seperti berkah Tuhan. Penyair adalah orang yang dikirim Tuhan, kata mereka.
Ribuan tahun, tradisi merayakan kepenyairan itu berlangsung terus tanpa putus. Hanya saja, ribuan tahun itu pula belum muncul tradisi untuk mengabadikan karya-karya penyair itu kedalam bentuk tertulis. Bangsa Arab, saat itu, tampaknya terlalu disibukkan oleh upaya penaklukkan daerah-daerah berumput hijau bagi kelangsung hidup kuda-kuda perang, domba-domba penghasil daging dan susu serta onta-onta mereka. Di semenanjung Arab sendiri hanya ada sedikit daerah subur yang bisa dikembangkan sebagai daerah pertanian. Tapi, kondisi alam yang keras, matahari yang membakar, gurun pasir yang melepuhkan kaki, dan kebisuan malam-malamnya menjadi kenangan yang saat itu dan hingga kini menjadi guha harta karun terbaik dan berharga bagi penulisan syair-syair Arab.
Lalu, sejarah pun mencatat tentang sajak-sajak yang tergantung di dinding-dinding Kabah. Mulai dari enam abad sebelum tiba Nabi Muhammad. Itulah sajak-sajak yang kala itu dianggap terbaik, dan memang hanya yang terbaiklah yang mendapat tempat istimewa: digantung di dinding Kabah, di Mekkah.

Tiga dari Tujuh Penyair
Ada tujuh penyair Arab yang pada masa itu mendapat kehormatan luar biasa. Ya, hanya tujuh syair dari tujuh penyair inilah yang hingga kini karyanya bisa ditemukan dan diyakini ketujuh sajak itulah yang terselamatkan karena digantung di dinding Kabah. Bangsa Arab sendiri terpecah soal keberadaan dan nama tujuh penyair itu. Tapi bersepakat bahwa karya yang tak sengaja ditinggalkan itu adalah harta peninggalan kebudayaan Arab yang tak terpermanai nilainya.
Siapakah mereka yang tujuh itu? Yang paling pertama adalah Imru Alquais. Atau sering pula dieja namanya dengan sebutan Amrulkais. Dia seorang pangeran, yang karena syair-syair cintanya mendapat kemurkaan ayahnya, seorand sheik atau kepaka suku. Amrulkais, lalu hidup mengembara sendiri jauh dari kemewahan hidup sebagai pangeran. Dia menjadi penggembala.
Justru pengusiran sang Ayah itulah yang menyelamatkan Amrulkais. Karena kemudian karena perselisihan suku, lalu pecah perang, dan sukunya punah terpecah-pecah. Dia menjadi pengembara yang tak tahu lagi kemana puak berinduk. Pengembara dalam arti yang sesungguhnya, tanpa suku. Pengembaraannya saat itu bahkan sampai ke Kekaisaran Romawi. Kala itu tahun 530 Masehi. Kaisar Justinian tengah berada di puncak kejayaan. Konstantinopel menjadi pusat kekuasaan dan di sana saat itu penyair pengembara sangat diberi tempat. Ada kisah yang menyebut Amrulkais, akhirnya malah dihukum mati sebab memukau cinta seorang putri keluarga Kaisar Justinian.
Apapun kisahnya, Amrulkais adalah penyair Arab pertama dalam sejarah bangsa itu. Nabi Mohammad pun mengakui namanya. Amrulkais, sudah memulai mendobrak tradisi menulis syair yang kala itu begitu ketat aturan baris baitnya, menjadi bentuk bebas yang menjadi ciri khas karya pribadinya. Syair-syairnya menjadi lirik bagi lagu-lagu padang pasir saat itu.
Nama kedua adalah Antar, atau Antarah. Dia anak seorang wanita budak kulit hitam. Dia pun dibeli oleh tuan ibunya, seorang lelaki Arab yang tak lain adalah ayah biologisnya. Dengan latar belakang serumit itu, syair-syairnya justru sangat romantis. Maka bila bicara soal syair-syair cinta kasih Arab Klasik, mata Antar-lah sang pemukanya, pahlawannya. Antar yang lahir dari rahim seorang budak itu memang punya bekal hidup yang sangat cukup untuk menjadi penyair. Karena kekuatan fisik dan kecerdasannya, dia akhirnya berhasil menempatkan dirinya menjadi pemimpin suku Ayahnya. Dia juga yang menjadi penyair bagi sukunya. Dia gemar menyanyikan syair-syairnya sendiri. Syair tentang kesejahteraan sukunya, atau kadang tentang rindu kepada permaisurinya, Ibla atau Ablah. Ablah, tadinya juga seorang budak. Salah satu syairnya dipetikkan di awal tulisan ini.
Berjeda sejenak pada sejarah, lalu kita akan menemukan nama Zuhair, sebagai salah satu nama dari tujuh penyair itu. Berbeda dengan Amrulkais yang memuja alam, Antar yang melankolik, Zuhair justru memulai tradisi syair yang filosofis dan religius. Dialah penyair termuda dan terakhir dalam sejarah penelusuran Syair-syair yang Tergantung di Pintu Kabah. Konon, Nabi Muhammad pernah bertemu dengan penyair ini. Karena kerasulan Mummmad saat itu menggoyahkan kejahiliahan suku-suku di Arab, maka syair-syair Zuhair yang sebenarnya filosofis seakan menjadi penentang ayat-ayat Alquran yang mulai disampaikan Nabi Muhammad. Kini sejarah sastra Arab mencatat Zuhair adalah seorang filosof berpengaruh di antara penyair-penyair Arab lainnya. Syair-syairnya sederhana dan banyak mengajarkan ide-ide cemerlang dan berharga pada masanya.
Kata-kata lewat syair sekali lagi tetap tinggal abadi, dan mengabadikan nama penyairnya.[hah]

Thaha Husein

Thaha Husein lahir pada tanggal 14 Nopember 1889 di sebuah kota kecil bernama Maghargha dari keluarga petani. Pendidikannya diawali di Kuttab, sebuah lembaga pendidikan dasar tradisional. Kemudian melanjutkan studinya di al-Azhar (1902). Setelah ia belajar kira-kira sepuluh tahun lamanya ia meninggalkan al-Azhar karena tidak menyukai dan tidak disukai. Thaha Husein tidak menyukai karena kecewa dengan sistem pengajaran al-Azhar yang dogmatis dan sempit serta materi pelajarannya yang amat tradisional dan menjemukan, disamping itu sikap kebanyakan para gurunya yang tidak simpatik. Dua orang yang disukainya adalah Muhammad Abduh (1849-1905) dan Sayyid al-Marshafy. Dari Muhammad Abduh ia belajar tentang studi keagamaan, dan dari al-Marshafy ia belajar sastra dan studi literatur bersama Zayyat dan Muhammad Hasan Zanati.

Thaha Husein dan para mahasiswa lainnya Hasan Zayyat dan Hasan Zanati sering mengkritik dan menolak Syuyuh al-Azhar, sebagai balasannya mereka diskors dari perguruan al-Azhar. Hasan Zayyat dan Hasan Zanati kemudian terjun ke dunia kewartawanan sedang Thaha Husein masuk ke Universitas Cairo.

Pada tahun 1908 Thaha Husein mendaftarkan diri sebagai mahasiswa Unviersitas Cairo. Di sinilah ia berkenalan dengan metode Barat Modern, setelah berkenalan dengan tokoh-tokoh (Orientalis) semisal Profesor Carlo Nallino (1872-1934), orientalis bangsa Italia, pengajar Sejarah Sastra dan Puisi Zaman Bani Umayyah, Profesor Santillana, pengajar sejarah Filsafat Islami dan khusus sejarah penterjemahan, Profesor Miloni pengajar Mesir purba dan Profesor Littman pengajar tentang bahasa-bahasa Smit serta perbandingannya dengan bahasa Arab.

Pada tanggal 5 Mei 1914 Thaha Husein mempertahankan disertasinya yang berjudul "Dhikra> Abi> al-‘Ala>' al-Ma‘ari>" di hadapan guru besar universitas Cairo dan behasil dengan judisium jayyid jiddan (baik sekali). Pada tahun yang sama (1914) Thaha Husein di kirim ke Perancis, tepatnya di Universitas Sarbonne sebagai anggota misi pendidikan Universitas Cairo. Tiga tahun kemudian (1917) ia meraih gelar doktor (untuk yang kedua kalinya) melalui disertasinya yang berjudul "Etude Analatique Et Critique De La Philosophie Sosiale Ibnu Khaldun" dan memperoleh Judisium Cumlaude.

Di Universitas Sarbonne, Thaha Husein bertemu dengan sederetan sarjana ternama semisal Profesor Emile Durkheim (1858-1917) dalam disiplin ilmu sosiologi. Profesor Gustaf Block dalam disiplin ilmu sejarah (ahli sejarah Romawi), Profesor Casanova dalam ilmu tafsir dan Profesor Pierre Jenet dalam Ilmu Psikologi. Perkenalan dengan sederetan sarjana yang berbeda disiplin ilmu itulah yang kelak akan sangat mewarnai intelektualitas Thaha Husein (terutama dalam penelitian) hingga menghasilkan gagasan-gagasan yang sangat kontroversi pada zamannya.

Merasa mendapatkan kemajuan intelektualitas diri di Paris itu, Thaha Husein lantas berucap: Paris is the capital of the modern world even as Athens was the capital of the ancient world, with difference that in knowledge, in philosophy, in freedom and in civilization, Paris has all the immense superiority over Athen. Sekembalinya dari Perancis (1921), Thaha Husein diangkat menjadi guru besar untuk sejarah Romawi dan Yunani Kuno pada Universitas Cairo. Pada tahun 1928 Thaha Husein diangkat menjadi Dekan Fakultas Sastra. Tahun 1930 ia diangkat menjadi Dekan pada Fakultas yang sama. Tahun 1942 Thaha Husein berperan sebagai Penasehat Kementerian partai Wafd, kemudian diangkat menjadi Rektor pada Universitas Alexanderia yang baru didirikan dan pada bulan Januari 1950-1952 Thaha Husein diangkat menjadi Menteri Pendidikan. Ketika menjabat itulah Thaha Husein dapat mewujudkan keinginannya dalam memajukan pendidikan di Mesir (seperti yang akan dikemukakan nanti)

Beberapa karya Thaha Husein yang populer adalah yang berjudul Fi> al-Syi‘ri al-Ja>hili>, ditulis pada tahun 1926 saat ia dipercaya menjadi dosen sejarah sastra Arab pada Fakultas Sastra al-Ayyam, dan Fi> al-Ab al-Ja>hili> (1927) dan Mustaqbal al-Saqafah fi> Mis}r (1938). Pada tahun 1973, Thaha Husein mendapatkan nobel dalam bidang sastra, meskipun ia sudah meninggal lebih dahulu pada tanggal 28 Oktober 1973 dalam usia sekitar 84 tahun.

Ahmad Syauqi

Ahmad Syauqi dilahirkan di daerah Alhanafi Kairo pada 16 Oktober 1868 M. Darah campuran yang ada pada dirinya berasal dari Arab, Turki dan Yunani. Darah Arab ia dapatkan dari ayahnya yang berasal dari suku Kurdi, sedangkan Ahmad Halim sang kakek (bapak dari ayahnya) berasal dari Turki yang kemudian menikah dengan Tamraz, seorang dara Yunani. Silsilah yang gado-gado ini berpengaruh kuat pada karakter sastra Syauqi, dimana Arab dan Yunani terkenal dengan syair dan para sastrawannya.

Banyak anekdot yang selalu dituangkan penulis sejarah seni dan budaya untuk memberi gambaran betapa intimnya keluarga Syauqi dengan para petinggi Istana: Sewaktu kecil, mata Syauqi sakit. Syauqi kecil tidak dapat melihat ke bawah. Pada suatu hari sang nenek membawa Syauqi kecil mengunjungi Ismail (Penguasa Mesir pada waktu itu). Melihat mata Syauqi yang tidak dapat melihat ke bawah, Ismail mengambil beberapa butiran emas kemudian menaburkannya di atas permadani. Seketika pandangan Syauqi 'turun' ke bawah, lalu berusaha mengumpulkan dan bermain dengan butiran emas. Melihat tingkah polah Syauqi itu, Ismail memberi saran kepada sang nenek agar mengobati cucunya seperti yang ia lakukan. Sang nenek menjawab, "Obat seperti ini tidak dapat saya jumpai kecuali pada apotik paduka".

Cerita ini menunjukan kecerdasan neneknya yang memang berasal dari Yunani dengan jawaban yang nyastra.

Pada masa Syauqi dua sistem pendidikan diberlakukan. Pertama sistem pendidikan agama yang dipelopori al-Azhar, dan kedua sistem Eropa yang berorientasi pada sains dan sastra. Syauqi memilih alternatif kedua. Setelah menamatkan Pendidikan Dasar dan Menengahnya di bawah asuhan syekh Soleh, ia melanjutkan studi di Fakultas hukum, kemudian pindah ke "fakultas Tarjamah" sehingga mendapatkan ijazah dalam bidang Seni Terjemah. Kemudian Syauqi melanjutkan studinya di Perancis untuk memperdalam ilmu hukum dan sastra Perancis. Di Perancis Syauqi mulai bersentuhan dengan sastra dan para sastrawan Eropa khususnya sastra Perancis. Ia banyak membaca dan menonton drama Perancis seperti Son of Alexandria Diamas dan Ji Di Mo Basan. Pada tahun 1894 Syauqi kembali ke Mesir. Wawasan dan pengetahuan Syauqi juga semakin bertambah saat ia habiskan empat tahun berkelana di Perancis, ia semakin menguasai bahasa Perancis dan Turki sekaligus.

Akibat campur tangan Inggris, pada saat Perang Dunia I meletus Syauqi dan para pejabat istana lainnya diasingkan ke Andalusia (Spanyol). Di pengasingan inilah Syauqi dicekam kesendirian dan kerinduan akan tanah airnya yang kemudian dituangkan ke dalam syair-syair melankolis.

Usai Perang Dunia reda, Syauqi kembali ke tanah airnya mengabdikan diri kepada bangsa dan negaranya terutama dalam bidang sastra sampai menghembuskan napas terakhir pada 13 Oktober 1932.

Tema-tema Syair Syauqi

Secara global tema-tema yang diusung syair Syauqi terbagi dua; Pertama tema-tema "kuno" mengikuti jejak para sastrawan klasik, tema ini diantaranya adalah al-madh (sanjungan), al-fakher (kebanggan), al-ghozal (rayuan), al-rosta (belasungkawa) dan al-Hikmah (kata-kata bijak) serta tema-tema lain yang berkaitan dengan etika dan estetika. Kedua adalah tema-tema kontemporer yang tidak dapat dijumpai pada syair klasik. diantara tema-tema baru tersebut adalah, pertama, Sejarah.

Tema sejarah yang Syauqi ungkapkan bukan hanya sebuah rentetan peristiwa tertentu yang sudah terjadi. Pada tema sejarah ini Syauqi menyisipkan suatu ibroh (pelajaran) yang ada pada sejarah dan peristiwa tersebut. Syauqi sendiri tahu banyak sejarah Mesir Kuno, sejarah Islam dan Sejarah Turki. Diantara kumpulan syairnya yang bertemakan sejarah adalah: Kibar al-Hawadis fii Wady el-Nil (Prahara Besar di Lembah Nil) yang menceritakan sejarah awal Mesir, Tut Akhmun wa al-hadharah (Tut Akhmun dan Peradabannya), Waqa'i al-Usmaniyah (Fakta-fakta Dinasti Ottoman) dan syair-syair sejarah Islam.

Kedua bertemakan Sosial. Kepedulian Syauqi terhadap sosial budaya dilatarbelakangi oleh gap antara kehidupan masyarakat dan istana. Kesenjangan yang menganga itu semakin mengentalkan niatnya untuk semakin menyatu dengan rakyat dan memperhatikan kalangan grass-root. Syair-syair sosial yang diangkat Syauqi bisanya berkisar tentang kemiskinan, kebodohan dan petaka penyakit yang didera rakyat Mesir. Dalam tema sosial ini kita bisa melihat judul-judul puisinya seperti: al-Hilal wa al-Sholib al-Ahmaroni (Bulan Sabit Merah dan Salib Merah), al-ilmu wa al-ta'lim wa wajibul mu'alim (Sains, Pendidikan dan Tuntutan Guru), dan lain lain.

Selain itu, --dan ini yang ketiga-- kita bisa jumpai syair-syair kontemporer yang bertemakan Fukahah (Anekdot). Meski syair-syairnya yang satiris dan tak pelak membuat pembacanya tertawa geli, namun anekdot Syauqi lebih menekankan substansi humor tersebut bukan pada permainan kata-kata seperti biasa dijumpai pada karya sastrawan lain. Dalam anekdotnya, Syauqi banyak menggunakan kata-kata samaran untuk menutupi identitas seseorang yang ia tulis. Diantara tema humor dalam syair Syauqi adalah al-Asad wa wajiiruhu al-himar (Singa dan Menteri Keledai).

Sedangkan jenis syair yang keempat, yaitu Syair Drama. Ketika itu belum ada penyair yang memperkenalkan bentuk baru ini dalam sastra Arab, namun ternyata Syauqi berhasil membuat terobosan baru tersebut. Naskah drama yang dikemas dalam bentuk syair baru dikenal Arab di zaman modern ini, dan Syauqi adalah pelopornya.

Darah Yunani yang dimiliki Syauqi rupanya telah mendorongnya menciptakan syair drama. Bukan hanya itu, ia juga banyak membaca drama-drama 'produk' Barat ketika masih belajar di Perancis. Drama yang diangkat Syauqi pada umumnya bersumber dari sejarah Mesir Kuno. Drama yang pertama kali diciptakan Syauqi berjudul "Cleopatra" yang ia tulis pada tahun 1927. Drama ini menceritakan hubungan antara kekaisaran Romawi dan kerajaan Mesir pada masa Bathelius di Alexandria yang pada waktu itu dikuasai oleh Cleopatra satu abad sebelum Masehi. (Dr Muhammad Anani, Ajmalu ma kataba Amir al-Syu'ara Ahmad Syauqi, Maktabat al-Usrah 2003).

Bukan rahasia lagi jika banyak sastrawan Barat mengangkat kisah "Cleopatra" sebagai sejarah hitam kerajaan Romawi dan Yunani, karena mereka mengilustrasikan Cleopatra sebagai wanita jalang yang menjual dirinya untuk mengadu domba antara Antonio (komandan perang Yunani) dan Actafius (sang kaisar) pada pertempuran sengit yang dikenal dengan petempuran Actiyum, yaitu perang yang berkecamuk di lautan lepas. Sebaliknya, Syauqi berhasil menampilkan sosok Cleopatra sebagai pahlawan Mesir yang cerdas dan berani, rela mengorbankan dirinya untuk membebaskan Mesir dari penjajahan Yunani.

Pengaruh Istana Dalam Syair-syair Syauqi

Di atas telah disinggung bahwa Syauqi mendapatkan kedudukan tinggi di istana pada masa Sultan Abbas. Ia sendiri diangkat Abbas sebagai penterjemah istana dan sebagai orang kepercayaanya, banyak keputusan-keputusan kerajaan diadopsi dari inspirasi Syauqi.

Masalahnya adalah kedudukan dan kepercayaan yang didapatkan Syauqi di istana membuat ia jauh dari kehidupan rakyat, dan tidak memperhatikan keadaan rakyat pada waktu itu, bahkan feeling sastranya pun banyak berkaitan dengan istana yang ia tempati. Syair-syair yang lahir ketika itu berisikan pujian-pujian terhadap kaum ningrat istana. Kebanggaannya terhadap syair pujian yang ia ciptakan dapat dilihat dalam salah satu bait syairnya:

syairul azizi ma'a bil qaliili zal laqobi

Sang pujangga kini di samping yang mulia

yang sederhana ia berjulukan nama.

Bisa ditebak, yang dimaksud "yang mulia" adalah Sultan Abbas.

Kondisi kehidupan politik Mesir yang carut marut pada masa itu sangat mempengaruhi Syauqi untuk menjadi penyair istana. Di hadapan Syauqi, istana dan kehidupannya merupakan sumber kebesaran. Saat itu seluruh jiwa dan raga Syauqi adalah milik istana. Bahkan seandainya saat itu ia tengah marah, maka marahnya sebagai ungkapan dukungan penuh terhadap istana.

Merendahkan Bangsa Arab

Andaikata ada demokrasi dan kebebasan pada masa itu, niscaya akan terlahir sedikit perbedaan dalam tampilan komposisi syairnya. Ada dua peristiwa dimana Syauqi terlihat jelas keberpihakannya pada istana tanpa memperhatikan rakyat biasa: Pertama, ketika ia baru pulang dari Perancis setelah empat tahun belajar disana. Timbul sikap arogansi dirinya dan lebih mengangkat tema 'darah biru' dan bangsawan istana. Pengetahuan Barat yang ia dapat, berpengaruh besar pada sikapnya yang merendahkan kebudayaan Arab. Ia berasumsi bahwa yang menjadikannya maju bukanlah bangsa Arab, tapi para bangsawan istana yang kebanyakan bukan kalangan Arab, karena yang mendorong dan mendukungnya studi di Eropa adalah Abbas, sang Sultan. Kedua: Peristiwa Densaway, peristiwa ini terjadi karena salah seorang tentara Inggris mati di daerah ini karena tertimpa sengatan matahari ketika hendak merampas ladang para petani. Kemudian Jendral Lord Klomer mengomandoi tentaranya untuk membantai penduduk desa tersebut, dan timbulah pemberontakan dan perlawanan dari rakyat Densaway. Pada peristiwa tersebut para petinggi kerajaan tidak ikut campur, termasuk Syauqi yang merekam sejarah tersebut dalam syairnya. Dalam syairnya Syauqi menduga kesalahan Lord Klomer hanya kesalahan biasa, maka ia memohon kepada masyarakat agar melupakannya. (Bakinaz Muhammad Sa'id- Amir al-Syu'ara Ahmad Syauqi, hal. 5).

Selain penyair istana yang selalu memuji para bangsawan Mesir, Syauqi juga banyak memuji para bangsawan Turki, kelompok syairnya ini disebut dengan at-Turkiyat (Turki sentris). Salah satu syairnya berjudul al-Andalus al-Jadidah yang mengasosiasi Turki ke dalam kategori Spanyol yang pernah menorehkan kejayaan di belahan bumi Eropa.

Diasingkan

Setelah PD I meletus, Inggeris berhasil menguasai Mesir dan Husen Kamil diangkat sebagai pimpinan Mesir. Abbas dan keluarganya diusir. Syauqi yang merupakan orang kepercayaannya tak luput dari malapetaka itu, ia dibuang ke Spanyol, tepatnya di Filderiro, Barcelona.

Di pengasingan inilah Syauqi terlepas dari belenggu istana yang bertahun-tahun mengikatnya. Terjadi perubahan gaya hidup Syauqi yang sebelumnya hidup bergelimang kemewahan, di pengasingan ia lalui hari-hari dicekam kesedihan yang sebelumnya ia tidak pernah alami. Perasaannya berkecamuk nestapa karena terpisah dari tanah air, pedih karena dahsatnya perang, resah karena Abbas diasingkan, dan gelisah karena kecintaannya akan tanah air.

Syauqi mulai merasakan dua sisi kehidupan yang berbeda antara senang dan sedih, ni'mat dan sengsara. Semuanya ia alami. Ini semua mempunyai pengaruh dalam perubahan syair Syauqi dari penyair istana menjadi penyair nasionalis dan kerakyatan. Maka lahirlah Syair Assiniya (syair yang tiap akhir baitnya berujung huruf sin –Pen.) yang mengungkapkan kerinduannya terhadap tanah air:

Haramkah seekor Bulbul kembali ke sangkar

O halal semua jenis burung menempati

Setiap rumah pasti berpenghuni

Hanya mereka yang hina

rumah orang lain dihuni

(As Syauqiyat, Ali Abd el-Monem, hal. 559).

Dalam bait ini Syauqi mengumpamakan dirinya sebagai seekor Bulbul. Burung ini tidak dapat tinggal kecuali pada sangkarnya. Demikian juga Syauqi tidak dapat tinggal selain di Mesir. Kemudian Syauqi menganalogi penjajah inggris dengan burung biasa yang suka tinggal dan mengacak-acak sangkar burung lain.

Itulah penggalan sajak Syauqi yang intinya adalah kerinduan akan tanah air. Dalam Syairnya ini, Syauqi banyak mengambil bentuk metafora untuk mengambarkan kerinduannya terhadap Mesir.

Hanya beberapa waktu Syauqi tinggal di Andalusia yang berubah menjadi Spanyol itu. Selama lima tahun banyak pengalaman yang direguknya, ia banyak berkeliling kota-kota bersejarah di Andalusia, puing-puing kota kerajaan Islam terkenal. Ia kunjungi Cordova, Granada, Sicillia dan kota lainnya. Sastra Andalusia ia tekuni, baik yang berupa novel atau syair, seperti novel "Putri Andalus" dan Syair Ibnu Jaidun. Dengan banyak membaca sastra Islam di Andalusia, kebanggaannya terhadap peradaban Arab mulai tumbuh. Ia sadar bahwa bangsa Arab telah memiliki peradaban yang tinggi. Semua wawasannya tentang peradaban Arab ia tuangkan dalam buku yang berjudul Duwal al-Arab wa 'udzoma al-Islam (Antologi syair Arab dan rezim Islam).

Setelah perang dunia usai, ia kembali ke tanah air. Tentunya pintu istana sudah tertutup baginya, untuk selanjutnya ia memilih menjauhkan diri dari kemewahan dunia dan mencari tempat peristirahatan yang dekat dengan rakyat. Ia tingalkan kemegahan, lalu berbaur dengan masyarakat dan hidup sederhana bersama rakyat biasa. Dari sinilah tema Syair Syauqi mulai banyak mengangkat kehidupan sosial: tentang kemiskinan, penderitaan, ketimpangan sosial, pendidikan rakyat dan lain sebagainya.

Beberapa Keistimewaan

Diantara keistimewan Syair Syauqi dapat dijumpai pada susunan redaksinya yang lugas dan jelas, tentunya karena didukung dengan kepiawaiannya dalam menguasai bahasa asing seperti bahasa Perancis, Turki, dan banyak menghapal kamus bahasa asing lainnya. Dari segi musik, keindahan syair Syauqi banyak dikagumi para seniman musik ataupun para musikus di zamannya.

Yang istimewa pada syair Syauqi juga adalah jenis Sy'ir Ghoiry yang ia miliki. Syi'ir Ghairi yang dimaksud di sini adalah subjek atau personifikasi yang dimunculkan bukan atas mana dirinya. Ia jarang mengangkat dirinya dalam tema Syair, kebanyakan temanya mengisahkan orang lain. Pada fase kehidupan istana, syair-syairnya dipersembahkan untuk memuji orang lain. Kendatipun ia pernah membanggakan diri dalam pengungkapan syair namun ia ungkapkan dengan diksi dan redaksi yang seolah diarahkan kepada pihak lain (Shawqi Dhief, 1999). Syauqi dianggap sebagai seorang penyair baru karena mampu ia tuangkan syairnya dengan uslub Ghoiry (diksi the other man), karena diksi tersebut ini lebih sulit dibandingkan dengan diksi yang mengekspresikan identitas dirinya sendiri.

Syauqi dan Kritik Sastra

Kritik mengkritik merupakan hal yang lazim dalam dunia sastra, bahkan dijadikan satu disiplin ilmu yang dikaji di lembaga bahasa yang biasa dikenal dengan kritik sastra. Sastra-sastra Syauqi juga tak luput dari hantaman kritik para sastrawan yang hidup pada zamannya, seperti Abbas Mahmud al-Akkad dan Toha Husein. Menurut Akkad, syair Syauqi tidak relevan dengan aliran baru, terlalu mengikuti arus dengan tradisi sastra dan syair klasik. Dalam bahasa perumpaan (tasybihat) misalnya, Syauqi banyak mengadopsi bentuk, simbol-simbol dan warna, bukan dari 'rasa' (al-'Atifah). Begitu juga halnya dengan syairnya yang tidak lagi natural yang telalu menekankan pada ornamen kata. Akkad juga menilai syair Syauqi menghambat aliran sastra baru yang ingin melepaskan diri dari belenggu sastra klasik seperti wazan (ritme) dan qofiyah (rhyme).

Namun rupanya kritik tersebut memuat unsur subjektifitas pada diri Akkad. Larisnya syair Syauqi di pasaran dan selalu dimuat media massa pada saat itu membuat -Akkad yang juga sastrawan- kelimpungan.

Sedangkan Thoha Husen menuduh Syauqi sebagai penyair malas, karena di salah satu sanjak yang berjudul Aristotelles, Syauqi banyak menyadur karya Plato, gurunya Aristotelles. Pada kesempatan lain, Thoha mengkritisi syair Syauqi yang terlalu hiperbolis dalam menganalogi potret masa silamnya. Dalam syairnya, misalnya, ia menyebutkan predikat ummul muhsiniin (ibu orang-orang bijak) sebuah gelar kebesaran yang ditujukan kepada Ibunda Abbas. Ia gambarkan kepulangan Ummul Muhsiniin dari Turki menggunakan kata al-Haudah (sebuah tenda yang memayungi punggung hewan), padahal ibunya Abbas datang ke Kairo dengan mengendarai mobil yang pada waktu itu sudah tidak asing lagi.

Gugatan Thoha Husen ini dijawab oleh Syauqi Dhief bahwa penggunaan kata haudah sebagai kendaraan Ummul Muhsiniin adalah penghormatan khusus untuk sang ratu, seperti yang terjadi pada ratu-ratu jaman baheula yang memang terbiasa menggunakannya. Menjawab tuduhan Toha Husen yang menyatakan bahwa Syauqi banyak mengadopsi karya Plato dalam syair Aristotelles, Dhief mengatakan bahwa antara filsafat dan sastra terpaut jarak yang jauh. Filasafat sarat dengan olah pikir, sementara sastra berada dalam dimensi rasa dan estetika.

Kendati kritik datang bertubi-tubi, Syauqi tetaplah Syauqi. Ia semakin mendapat derajat tinggi dalam sastranya. Ia tinggalkan kehidupan bangsawan beralih ke kehidupan rakyat biasa, sehinga syair-syairnya banyak diterima kalangan luas.

Begitulah. Pro dan kontra dalam hal apapun merupakan hal yang biasa terjadi. Namun bagaimanapun, --meminjam istilah Syukri Iyadh-- Syauqi dikelilingi beberapa pihak yang penuh kebencian dan dendam. Di sisi lain Syauqi dipayungi para pengagum yang menaruh hormat luar biasa. Bahkan kendatipun Dhief mencoba mengkritisi syair-syair Ahmad Syauqi dan mencoba mengimbangi dua kontraversi tersebut semaksimal mungkin, akan tetapi ternyata ia bertekuk lutut pada shigot (formula bahasa) Arab Syauqi yang kental dan terkenal dengan penggunaan bahasa Arab klasik yang jarang sekali digunakan oleh penyair sezamannya, atau bahkan hingga hari ini!

Para penggemar syair Ahmad Syauqi juga melihat beberapa segi syair yang pernah diamati Muhammad Husain Haikal sebagai "dualisme sosok Syauqi". Pada suatu sisi Syauqi adalah penyair Arab-Muslim, di sisi lain ia juga seorang penyair nasionalis. Namun pada cetakan kedua, ia menegaskan dualisme Syauqi yang beraliran hikmah, zuhd (asketis) dan reflektif-kontemplatif bersama aliran almat' al-hissiyah (kenikmatan inderawi) dan kenikmatan estetika seolah dua figur manusia tersebut menyatu dalam satu tokoh bernama Ahmad Syauqi, meskipun, kita percaya –berdasarkan kritik sastra modern- bahwa "identitas penyair wajib terisolir dari substansi syair". Berdasarkan post-critism sastra menyatakan sekte-sekte pemikiran tidak musti dikaitkan kepada seorang penyair seperti halnya dikait-kaitkan pada suatu era tertentu. Karena itu kita berupaya merepresentasikan zaman tersebut dengan sajak-sajak yang berseberangan dengan peristiwa-peristiwa yang tengah terjadi. Koleksi syair Ahmad Sauqi juga berseberangan dengan syair-syair putra generasi kita baik yang kita hapal sewaktu kecil dalam buku-buku koleksian atau berdasarkan peribahasa-peribahasa ralyat yang merambat dari mulut ke mulut, atau yang menjadi bagian dari seni klasik Arab.

Kesimpulan

Tiga fase kehidupan pada diri Syauqi saling melengkapi. Fase pertama saat ia tinggal di istana, semua kehidupannya diabdikan untuk istana, ia tidak memiliki istana tapi istana yang memiliki dirinya sehingga syair-syairnya kala itu mencerminkan kehidupan para penghuni istana. Fase berikutnya tatkala ia berada di pengasingan. Pada fase kedua ini Syauqi merasakan sisi kehidupan yang lain, setelah kesenangan dan kenikmatan yang ia alami, pada fase ini ia rasakan kesedihan dan kesengsaraan serta kesendirian, sehingga mengalir pada dirinya syair-syair kebangsaan. Fase ketiga setelah ia kembali dari pengasingan. Pada fase ini, Syauqi ibarat burung yang baru dilepas dari sangkar, bebas terbang kesana kemari, bebas mengekpresikan hasil seninya, dan menyatu dengan rakyat biasa lebih ia sukai ketimbang hidup dengan kaum bangsawan.

Ka’ab ibn Zuhair
 
Ka'b ibn Zuhair seorang penyair kenamaan hidup dalam  masa paganisma  dan  Islam.  Ayahnya,  Zuhair b. Abi Sulma, salah seorang penyair Mu'allaqat (lihat halaman  63  jilid  satu). Sajak  ini  panjang,  dan  terkenal  sekali,  dimulai dengan melukiskan kekasihnya, Su'ad. Kemudian dilukiskannya  betapa kagumnya  ia kepada Rasul, yang baru dijumpainya itu, karena telah   memaafkannya.   Padahal    sebelum    itu,    dengan
sajak-sajaknya  ia  mengejek  dan memaki-makinya. Di samping itu Rasul bahkan membuka mantelnya (burda)  dan  dibenkannya kepada Ka'b. Serangkum puisi yang indah ini sebenarnya hidup sampai  sekarang  dengan  beberapa  adaptasi,  antara   lain
melalui  Bushiri  (lihat  halaman  xxiii)  dan penyair Ahmad Syauqi (1868-1932), penyair Mesir kenamaan,  dan  yang  juga dijadikan   tema   dalam   beberapa  komposisi  musik  Mesir kontemporer.

Al-Khansa

Al-Khansa terlahir pada zaman jahiliyah dan tumbuh besar di tengah suku bangsa Arab yang mulia, yaitu Bani Mudhar. Sehingga banyak sifat mulia yang terdapat dalam diri Al-Khansa. la adalah seorang yang fasih, mulia, murah hati, tenang, pemberani, tegas, tidak kenal pura-pura, suka terus terang. Dan selain keutamaan itu, ia pun pandai bersyair. la terkenal dengan syair-syairnya yang berisi kenangan kepada orang-orang yang dikasihinya yang telah tiada mendahuluin ke alam baka.

Terutama kepada kedua saudara lelakinya, yaitu Mu’awiyah dan Sakhr yang telah meninggal dunia. Diriwayatkan bahwa ketika Adi bin Hatim dan saudarinya, Safanah binti Hatim datang ke Madinah dan menghadap Rasulullah SAW, maka berkata, “Ya Rasuluilah, dalam golongan kami ada orang yang paling pandai dalam bersyair dan orang yang paling pemurah hati, dan orang yang paling pandai berkuda.” Rasuluilah SAW bersabda, ‘Siapakah mereka itu. Sebutkaniah namanya.’ Adi menjawab, ‘Adapun yang paling pandai bersyair adalah Umru’ul Qais bin Hujr, dan orang yang paling pemurah hati adalah Hatim Ath-Tha’i, ayahku.

Dan yang paling pandai berkuda adalah Amru bin Ma’dikariba.’ Rasuluilah SAW menukas, “Apa yang telah engkau katakan itu salah, wahai Adi. Orang yang paling pandai bersyair adalah Al-Khansa binti Amru, dan orang yang paling murah hati adalah Muhammad Rasulullah, dan orang yang paling pandai berkuda adalah Ali bin Abi Thaiib.’ Jarir ra. pernah ditanya, Siapakah yang paling pandai bersyair? Jarir ra. menjawab, ‘Kalau tidak ada Al-Khansa tentu aku.’ Al-Khansa sangat sering bersyair tentang kedua saudaranya, sehingga hal itu pernah ditegur olah Umar bin Khattab ra. Umar ra. pernah bertanya kepada Khansa, ‘Mengapa matamu bengkak-bengkak?’ Khansa menjawab, ‘Karena aku terialu banyak menangis atas pejuang-pejuang Mudhar yang terdahulu.” Umar berkata, ‘Wahai Khansa, Mereka semua ahli neraka.’ Sahut Khansa, ‘Justru itulah yang membuat aku lebih kecewa dan sedih lagi. Dahulu aku menangisi Sakhr atlas kehidupannya, sekarang aku menangisinya karena ia adalah ahli neraka.’ Al-Khansa menikah dengan Rawahah bin Abdul Aziz As Sulami. Dari pernikahan itu ia mendapatkan empat orang anak lelaki. Dan melialui pembinaan dan pendidikan tangan-tangannya, keempat anak lelakinya ini telah menjadi pahlawan-pahlawan Islam yang terkenal. Dan Khansa sendiri terkenal sebagai ibu dari para syuhada. Hal itu dikarenakan dorongannya terhadap keempat anak lelakinya yang telah gugur syahid di medan Qadisiyah.

Sebelum peperangan dimulai, terjadilah perdebatan yang sengit di rumah Al-Khansa. Di antara keempat putranya telah terjadi perebutan kesempatan mengenai siapakah yang akan ikut berperang melawan tentara Persia, dan siapakah yang harus tinggal di rumah bersama ibunda mereka. Keempatnya saling tunjuk menunjuk kepada yang lainnya untuk tinggal di rumah. Masing-masing ingin turut berjuang melawan musuh fi sabilillah. Rupanya, pertengkaran mereka itu telah terdengar oleh ibunda mereka, Al-Khansa. Maka Al-Khansa telah mengumpulkan keempat anaknya, dan berkata, ‘Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian memeluk agama ini tanpa paksaan. Kalian telah berhijrah dengan kehendak sendiri. Demi Allah, yang tiada Tuhan selain Dia. Sesungguhnya kalian ini putra-putra dari seorang lelaki dan dari seorang perempuan yang sama. Tidak pantas bagiku untuk mengkhianati bapakmu, atau membuat malu pamanmu, atau mencoreng arang di kening keluargamu.Jika kalian telah melihat perang, singsingkaniah lengan baju dan berangkatiah, majulah paling depan niscaya kalian akan mendapatkan pahala di akherat. Negeri keabadian. Wahai anakku, sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad itu Rasul Allah. lnilah kebenaran sejati, maka untuk itu berperanglah dan demi itu pula bertempurlah sampai mati. Wahai anakku, carilah maut niscaya dianugrahi hidup.’ Pemuda-pemuda itupun keluar menuju medan perang. Mereka berjuang matl-matian melawan musuh, sehingga banyak musuh yang terbunuh di tangan mereka. Akhirnya nyawa mereka sendirilah yang tercabut dari tubuh-tubuh mereka. Ketika ibunda mereka, Al-Khansa, mendengar kematian anak-anaknya dan kesyahidan semuanya, sedikit pun ia tidak merasa sedih dan kaget. Bahkan ia telah berkata, ‘Alhamdulillah yang telah memuliakanku dengan syahidnya putra-putraku. Semoga Allah segera memanggiiku dan berkenan mempertemukan aku dengan putra-putraku dalam naungan Rahmat-Nya yang kokoh di surgaNya yang luas.’ Al-Khansa telah meninggal dunia pada masa permulaan kekhalifahan Utsman bin Affan ra., yaitu pada tahun ke-24 Hijriyah. (Wanita-wanita Sahabiyah)

Nawal el-Shadawi

Nawal El Saadawi, seorang dokter dan penulis perempuan termasyhur di Mesir sudah cukup lama menyapa para pencinta karya-karya sastra/fiksi Indonesia.

Karya-karyanya menggambarkan gema universal dar fakta-fakta masyarakat Arab untuk memproyeksikan persepsi yang berbeda mengenai politik seksual, emosi-emosi yang ditekan, makna kehidupan dan cinta. Karyanya yang sudah diindonesiakan antara lain Matinya Seorang Mantan Menteri (Penerbit Yayasan Obor Indonesia, cetakan pertama, 1994). Selain itu, Tiada Tempat di Surga Untuknya (Penerbit Jendela, cetakan pertama, 2002). Buku ini memuat cerpen-cerpen tentang keluhan-keluhan penindasan perempuan yang mengalir ke meja kerjanya sebagai seorang dokter, dan ditulisnya pada rentang 1980-1990-an.

Sarkasme Kaum Tertindas

Nawal el-Saadawi bukanlah nama yang asing lagi bagi masyarakat sastra di Indonesia. Wanita kelahiran Kafr Tahla-tepi Sungai Nil-Mesir, 72 tahun yang lalu ini selalu membangkitkan emosi pembaca dengan bahasa emotif (emotif language) di dalam setiap karyanya.

Sejauh pengamatan sastra Arab yang telah dikaji, dalam setiap karya Nawal el-Saadawi selalu menampilkan dan menonjolkan kritik yang cukup pedas sekaligus penggambaran realitas sosial politik dengan menggunakan colloquaialism atau gaya bahasa harian dalam penceritaannya, natural, dan tanpa embel-embel analitik. Nawal el Saadawi tidak mengikuti aliran al-fanna al-kamil (keindahan) yang kebanyakan digunakan sastrawan Arab.

Bahasa sarkatis yang sering digunakan Nawal ini cukup membuat geram para intelektual dan Pemerintah Mesir. Hal itu harus dibayar mahal olehnya. Pada 6 September 1981 ia dijebloskan ke dalam penjara Barrages di Mesir pada masa pemerintahan Anwar Sadat atas tuduhan perbuatan kriminal melawan pemerintahan yang sah.

Antologi cerita pendek Tak Ada Tempat bagi Perempuan di Surga secara eksplisit mendeskripsikan kehidupan tertindas terombang-ambing oleh kekuatan dan kekuasaan. Cerpen pertama Tak Ada Tempat bagi Perempuan di Surga, Nawal el-Saadawi secara impresif mengisahkan tokoh Zainab dalam menapaki kehidupan. Kegetiran, kepedihan, dan segala kesengsaraan yang selalu menguntit setiap napasnya, dari ia dilahirkan sampai akhir hayatnya.

Ia mendeskripsikan dengan jelas, pure, serta alur ceritanya yang rapi runtut mengenai bagaimana Zainab mendapatkan perlakuan tidak adil oleh orang-orang sekelilingnya karena ketidakberdayaannya sebagai seorang anak-perempuan-istri. Zainab hanya bisa pasrah dengan segala macam ancaman dan siksaan yang mendera hidupnya.

Dengan suspense yang terus meningkat, Nawal el Saadawi mengeksplorasikan kepasrahan dan ketidakberdayaan Zainab, "Sebelum subuh ia sudah dibangunkan oleh tamparan ibunya agar ia mau membawa kapas di atas kepalanya. Ia tidak mengenal apa pun kecuali kata ’Ya’, dan bila bapaknya mengikatnya di tempat bajak sebagai ganti kerbau yang sakit, dia tidak mengatakan apa pun kecuali ’Ya’. Suaminya tidak pernah mengangkat matanya untuk menatapnya sekalipun, dan di saat suaminya itu tidur di atasnya, sedangkan ia lagi demam, ia tidak berkata apa-apa kecuali kata ’Ya’."

Ekspresionisme yang diungkapkan Nawal el-Saadawi dalam setiap karyanya ini kerap mendobrak doktrin-doktrin dominasi laki-laki terhadap wanita (androsentrisme) seperti dituturkan dalam cerpen Kisah Fathiah al-Misriyah. Dalam cerpen ini diceritakan bagaimana Fathiah digambarkan sebagai wanita yang memberontak oleh aturan-aturan hidup yang menyudutkan hidupnya. Ia ingin membunuh bapaknya yang menurutnya telah menjual dirinya (menikahkan) pada seseorang konglomerat dari Mekkah yang usianya jauh lebih tua dari bapaknya.

Rentetan frasa dengan nada provokatif serta suspense yang terus meningkat, membuat cerita ini meninggalkan kesan yang sangat dalam, bahwa penulis menentang kultur sekaligus doktrin dan undang- undang di negaranya. Hal itu bisa ditemukan: "Bapakku memperlakukanku lebih buruk daripada pembunuhan. Permasalahannya adalah undang-undang tidak menghukum bapakku serta tidak menghukum suami Rabiah. Undang-undang juga tidak menghukum para bapak dan para suami yang memperjualbelikan kami atas nama nikah yang sah, talak atau poligami yang sah" (hlm 158).

Di sisi lain, ada yang menarik dari karya Nawal, yaitu keberaniannya melontarkan sarkastis kepada pemerintah. Seperti yang ditulisnya di Catatan dari Penjara Perempuan, "Jika pihak penguasa marah pada seorang pengarang bersangkutan dapat diberangus dan suaranya dibungkam, sehingga tak terdengar lagi oleh siapa pun. Seorang pengarang tak mungkin mencapai puncak kesusastraan dan bertahan di sana, jika tak direstui oleh pemerintah" (hlm 6-7).

Pergolakan jiwa yang dihidangkan dalam setiap karya-karya Nawal el Saadawi tidak terlepas dari jiwa Nawal yang berontak dengan aturan-aturan yang mengikatnya sebagai seorang wanita. Karena itu, di dalam karya-karyanya selalu menampilkan sarkasme-sarkasme yang ditujukan pada kaum laki-laki dan penguasa. Hal ini juga menyangkut kritik pragmatik, sebagai pertimbangan pengaruh karya sastra terhadap pembaca. Disadari atau tidak. Nawal telah menciptakan jiwa-jiwa pemberontak dengan bahasanya yang terkesan memprovokasi yang membangkitkan emosi para pembaca.

Tema yang diangkat Nawal yang cenderung monoton, terfokus pada kegelisahan hidup. Seperti karya-karyanya yang terdahulu, Memoar Seorang Dokter Perempuan, Matinya Seorang Menteri, Catatan dari Penjara Perempuan, Perempuan di Titik Nol, dan Kabar dari Penjara, semua mengangkat hal yang sama. Semua tidak lepas dari uraian jiwa Nawal (sekaligus tokoh dalam karya sastra) yang mengalami guncangan hidup dan depresi yang sangat dalam. Tidak ada satu pun karyanya bisa membuat para pembaca tersenyum atau tertawa. Aliran naturalisme-realisme yang dianut oleh Nawal el Saadawi, di sisi lain ditemukan adanya suatu kejanggalan yang terkesan dibuat- buat, yaitu tema yang diangkat selalu menampilkan penderitaan hidup, tidak menampilkan kebahagiaan hidup di hati tokohnya, seakan hidup ini adalah penderitaan tiada akhir. Padahal Tuhan selalu menghiasi suka dan duka di hati hamba- hamba-Nya.

Namun Nawal begitu pandai menyembunyikan kesan itu dengan rising plot (alur menanjak), di mana jalinan peristiwa dalam karya yang dihasilkannya terus menanjak, tanpa ada peleraian sampai cerita itu selesai di puncak. Kesan itu benar-benar tak terbaca oleh para pembaca.

Jarir bin Atiyyah

Jarir bin Atiyyah bin Khathfy. Ia dilahirkan di Yamamah di tengah-tengah lingkungan para penyair pada masa pemerintahan Usman bin Affan. Ia berasal dari keluarga miskin dalam lingkungan masyarakat Badui. Bakat kepenyairannya telah tampak sejak kecil ketika ia mengalahkan penyair kaumnya yang menghina keluarganya. Puisinya mengalir ringan dengan diksi yang tersusun apik namun tetap easy listening. Hal inilah yang membedakan puisinya dari puisi al-Farazdaq yang dinilai berat karena bersandar pada diksi-diksi berat dan makna yang dalam. Puisi al-Farazdaq hanya bisa dinikmati oleh ahli sastra dan bahasa sementara puisi Jarir dapat diresapi oleh masyarakat awam pada umumnya.

Ketika kecil, Jarir pernah memenangkan verbal contest dengan seorang penyair bernama Ghassan yang menghina keluarganya. Ternyata, pertarungan tersebut berlangsung lama sehingga seorang penyair bernama al-Baist dari suku al-Farazdaq datang membantu. Jarir menyerang al-Baits dengan puisi satiris yang tajam. Al-Farazdaq membantu al-Baist menyerang Jarir dengan mengusik asal-usul Jarir pada masa Jahiliyah dan Islam dan menggoyang kemulian nenek moyangnya.[13] Keduanya terlibat dalam pertikaian hebat dengan media puisi. Melihat pertikaian yang sengit itu, al-Akhtal menilai bahwa al-Farazdaq lebih unggul dari pada Jarir.

Gibran Khalil Gibran

Kahlil Gibran lahir pada tanggal 6 Januari 1883 di Beshari, Lebanon. Beshari merupakan daerah yang kerap disinggahi badai, gempa, serta petir. Tak heran bila sejak kecil, mata Gibran sudah terbiasa menangkap fenomena-fenomena alam tersebut. Inilah yang nantinya banyak mempengaruhi tulisan-tulisannya tentang alam.

Pada usia 10 tahun, bersama ibu dan kedua adik perempuannya, Gibran pindah ke Boston, Amerika Serikat. Tak heran bila kemudian Gibran kecil mengalami kejutan budaya, seperti yang banyak dialami oleh para imigran lain yang berhamburan datang ke Amerika Serikat pada akhir abad ke-19. Keceriaan Gibran di bangku sekolah umum di Boston, diisi dengan masa akulturasinya maka bahasa dan gayanya dibentuk oleh corak kehidupan Amerika. Namun, proses Amerikanisasi Gibran hanya berlangsung selama tiga tahun karena setelah itu dia kembali ke Beirut, di mana dia belajar di Madrasah Al-Hikmat (School of Wisdom) sejak tahun 1898 sampai 1901.

Awal remaja

Selama awal masa remaja, visinya tentang tanah kelahiran dan masa depannya mulai terbentuk. Tirani kerajaan Ottoman, sifat munafik organisasi gereja, dan peran kaum wanita Asia Barat yang sekadar sebagai pengabdi, mengilhami cara pandangnya yang kemudian dituangkan ke dalam karya-karyanya yang berbahasa Arab.

Gibran meninggalkan tanah airnya lagi saat ia berusia 19 tahun, namun ingatannya tak pernah bisa lepas dari Lebanon. Lebanon sudah menjadi inspirasinya. Di Boston dia menulis tentang negerinya itu untuk mengekspresikan dirinya. Ini yang kemudian justru memberinya kebebasan untuk menggabungkan 2 pengalaman budayanya yang berbeda menjadi satu.

Semasa di Paris

Gibran menulis drama pertamanya di Paris dari tahun 1901 hingga 1902. Tatkala itu usianya menginjak 20 tahun. Karya pertamanya, "Spirits Rebellious" ditulis di Boston dan diterbitkan di New York, yang berisi empat cerita kontemporer sebagai sindiran keras yang meyerang orang-orang korup yang dilihatnya. Akibatnya, Gibran menerima hukuman berupa pengucilan dari gereja Maronite. Akan tetapi, sindiran-sindiran Gibran itu tiba-tiba dianggap sebagai harapan dan suara pembebasan bagi kaum tertindas di Asia Barat.

Masa-masa pembentukan diri selama di Paris cerai-berai ketika Gibran menerima kabar dari Konsulat Jendral Turki, bahwa sebuah tragedi telah menghancurkan keluarganya. Adik perempuannya yang paling muda berumur 15 tahun, Sultana, meninggal karena TBC.

Gibran segera kembali ke Boston. Kakaknya, Peter, seorang pelayan toko yang menjadi tumpuan hidup saudara-saudara dan ibunya juga meninggal karena TBC. Ibu yang memuja dan dipujanya, Kamilah, juga telah meninggal dunia karena tumor ganas. Hanya adiknya, Marianna, yang masih tersisa, dan ia dihantui trauma penyakit dan kemiskinan keluarganya. Kematian anggota keluarga yang sangat dicintainya itu terjadi antara bulan Maret dan Juni tahun 1903. Gibran dan adiknya lantas harus menyangga sebuah keluarga yang tidak lengkap ini dan berusaha keras untuk menjaga kelangsungan hidupnya.

Di tahun-tahun awal kehidupan mereka berdua, Marianna membiayai penerbitan karya-karya Gibran dengan biaya yang diperoleh dari hasil menjahit di Miss Teahan's Gowns. Berkat kerja keras adiknya itu, Gibran dapat meneruskan karier keseniman dan kesasteraannya yang masih awal.

Pada tahun 1908 Gibran singgah di Paris lagi. Di sini dia hidup senang karena secara rutin menerima cukup uang dari Mary Haskell, seorang wanita kepala sekolah yang berusia 10 tahun lebih tua namun dikenal memiliki hubungan khusus dengannya sejak masih tinggal di Boston. Dari tahun 1909 sampai 1910, dia belajar di School of Beaux Arts dan Julian Academy. Kembali ke Boston, Gibran mendirikan sebuah studio di West Cedar Street di bagian kota Beacon Hill. Ia juga mengambil alih pembiayaan keluarganya.

Pada tahun 1911 Gibran pindah ke kota New York. Di New York Gibran bekerja di apartemen studionya di 51 West Tenth Street, sebuah bangunan yang sengaja didirikan untuk tempat ia melukis dan menulis.

Sebelum tahun 1912 "Broken Wings" telah diterbitkan dalam Bahasa Arab. Buku ini bercerita tentang cinta Selma Karami kepada seorang muridnya. Namun, Selma terpaksa menjadi tunangan kemenakannya sendiri sebelum akhirnya menikah dengan suami yang merupakan seorang uskup yang oportunis. Karya Gibran ini sering dianggap sebagai otobiografinya.

Pengaruh "Broken Wings" terasa sangat besar di dunia Arab karena di sini untuk pertama kalinya wanita-wanita Arab yang dinomorduakan mempunyai kesempatan untuk berbicara bahwa mereka adalah istri yang memiliki hak untuk memprotes struktur kekuasaan yang diatur dalam perkawinan. Cetakan pertama "Broken Wings" ini dipersembahkan untuk Mary Haskell.

Gibran sangat produktif dan hidupnya mengalami banyak perbedaan pada tahun-tahun berikutnya. Selain menulis dalam bahasa Arab, dia juga terus menyempurnakan penguasaan bahasa Inggrisnya dan mengembangkan kesenimanannya. Ketika terjadi perang besar di Lebanon, Gibran menjadi seorang pengamat dari kalangan nonpemerintah bagi masyarakat Syria yang tinggal di Amerika.

Ketika Gibran dewasa, pandangannya mengenai dunia Timur meredup. Pierre Loti, seorang novelis Perancis, yang sangat terpikat dengan dunia Timur pernah berkata pada Gibran, kalau hal ini sangat mengenaskan! Disadari atau tidak, Gibran memang telah belajar untuk mengagumi kehebatan Barat.

Karya Pertamanya

Sebelum tahun 1918, Gibran sudah siap meluncurkan karya pertamanya dalam bahasa Inggris, "The Madman", "His Parables and Poems". Persahabatan yang erat antara Mary tergambar dalam "The Madman". Setelah "The Madman", buku Gibran yang berbahasa Inggris adalah "Twenty Drawing", 1919; "The Forerunne", 1920; dan "Sang Nabi" pada tahun 1923, karya-karya itu adalah suatu cara agar dirinya memahami dunia sebagai orang dewasa dan sebagai seorang siswa sekolah di Lebanon, ditulis dalam bahasa Arab, namun tidak dipublikasikan dan kemudian dikembangkan lagi untuk ditulis ulang dalam bahasa Inggris pada tahun 1918-1922.

Sebelum terbitnya "Sang Nabi", hubungan dekat antara Mary dan Gibran mulai tidak jelas. Mary dilamar Florance Minis, seorang pengusaha kaya dari Georgia. Ia menawarkan pada Mary sebuah kehidupan mewah dan mendesaknya agar melepaskan tanggung jawab pendidikannya. Walau hubungan Mary dan Gibran pada mulanya diwarnai dengan berbagai pertimbangan dan diskusi mengenai kemungkinan pernikahan mereka, namun pada dasarnya prinsip-prinsip Mary selama ini banyak yang berbeda dengan Gibran. Ketidaksabaran mereka dalam membina hubungan dekat dan penolakan mereka terhadap ikatan perkawinan dengan jelas telah merasuk ke dalam hubungan tersebut. Akhirnya Mary menerima Florance Minis.

Pada tahun 1920 Gibran mendirikan sebuah asosiasi penulis Arab yang dinamakan Ar-rabithah Al-alamia (Ikatan Penulis). Tujuan ikatan ini merombak kesusastraan Arab yang stagnan. Seiring dengan naiknya reputasi Gibran, ia memiliki banyak pengagum. Salah satunya adalah Barbara Young. Ia mengenal Gibran setelah membaca "Sang Nabi". Barbara Young sendiri merupakan pemilik sebuah toko buku yang sebelumnya menjadi guru bahasa Inggris. Selama 8 tahun tinggal di New York, Barbara Young ikut aktif dalam kegiatan studio Gibran.

Gibran menyelesaikan "Sand and Foam" tahun 1926, dan "Jesus the Son of Man" pada tahun 1928. Ia juga membacakan naskah drama tulisannya, "Lazarus" pada tanggal 6 Januari 1929. Setelah itu Gibran menyelesaikan "The Earth Gods" pada tahun 1931. Karyanya yang lain "The Wanderer", yang selama ini ada di tangan Mary, diterbitkan tanpa nama pada tahun 1932, setelah kematiannya. Juga tulisannya yang lain "The Garden of the Propeth".

Pada tanggal 10 April 1931 jam 11.00 malam, Gibran meninggal dunia. Tubuhnya memang telah lama digerogoti sirosis hati dan TBC, tapi selama ini ia menolak untuk dirawat di rumah sakit. Pada pagi hari terakhir itu, dia dibawa ke St. Vincent's Hospital di Greenwich Village.

Hari berikutnya Marianna mengirim telegram ke Mary di Savannah untuk mengabarkan kematian penyair ini. Meskipun harus merawat suaminya yang saat itu juga menderita sakit, Mary tetap menyempatkan diri untuk melayat Gibran.

Jenazah Gibran kemudian dikebumikan tanggal 21 Agustus di Ma Sarkis, sebuah biara Carmelite di mana Gibran pernah melakukan ibadah.

Sepeninggal Gibran, Barbara Younglah yang mengetahui seluk-beluk studio, warisan dan tanah peninggalan Gibran. Juga secarik kertas yang bertuliskan, "Di dalam hatiku masih ada sedikit keinginan untuk membantu dunia Timur, karena ia telah banyak sekali membantuku."

Al-Farazdaq

Al-Farazdaq, yang bernama lengkap Abu Firas bin Gholib lahir di Yamamah (Arab Timur), suatu tempat dekat Basrah pada masa akhir pemerintahan Umar bin Khatab. Ia berasal dari sub-suku Mudjasyi dari klan bani Tamim, dibesarkan dari keluarga terdidik dan mulia yang nantinya banyak tergambar dalam puisi-puisinya. Al-Farazdaq memiliki talenta berpuisi sejak usia masih kecil. Puisinya dinilai kaya dengan ungkapan-ungkapan indah, diksi terpilih dan uniq, dan memiliki kedalaman makna serta cenderung mengikuti gaya puisi Jahiliyah yang murni. Para ahli sastra dan bahasa memuji al-Farazdaq dengan sebuah kalimat: “Kalau bukan karena puisi al-Farazdaq, maka akan hilanglah 1/3 bahasa Arab”.

Al-Farazdaq, pada awalnya merupakan penganut Syiah. Karena alasan teologis-politis ini, ia sempat melarikan diri ke Madinah karena dikejar oleh Ziyad, Gubernur Basrah dan baru kembali ke Irak setalah kematian Ziyad. Namun demikian, ia telah terbiasa memuji pejabat Umayyah di Basrah dan Kufah dan terkadang juga mencela mereka. Terkadang ia pergi ke Damaskus untuk memuji pejabat teras Umayyah. Al-Farazdaq baru diterima secara terbuka di kalangan Umayyah saat di bawah pemerintahan Abdul Malik bin Marwan (65/685) dan kedua putranya; Sulaiman dan Hisyam (105/724).